About Us

Gurindam.id didirikan untuk menjadi pemacu semangat dari karya cipta syair Gurindam pujangga Melayu Raja Ali Haji turunan bangsawan Opu Bersaudara dari Bugis yang berimigrasi ke Johor Riau dan Lingga di awal abad ke 17.

Dengan semangat itu pengagasnya tidak sekedar ikutan meramaikan kehadiran media yang digunakan untuk tujuan politik kekuasaan dan ekonomi semata. Sekian dekade sepertinya kita temukan lahirnya penerbitan pers yang baru yang berorientasi untuk bagaimana pers berfungsi sebagai pencerahan pencerdasan dengan peran sosial kontrolnya. Pers yang membangun kontrol/kritik yang solutif jalan keluar.

Pers yang bersinergi kooperatif yang memuliakan untuk Membangun Bangsa. Mulai dari membangun daerah dimana pers itu berdomisili dan berkontribusi. Kehadiran pers di tanah melayu ini dapat menjadi patner untuk tujuan kemaslahatan rakyat melayu khusunya.

Karena itu perlu memahami peta potensi daerah Kepri. Dari pengamatan bahwa Kepri ini memiliki potensi keunggulan untuk dikembangkan sebagai daerah pertumbuan ekonomi. Potensi keunggulan itu antara lain dengan sumberdaya alam/ geografinya, kelautan, pariwisata dan sejarah peradabannya.

Mengakhiri tulisan ini saya kutipkan penggalan syair Rida K Liamsi :

elang putih berekor panjang
mengigal berahi di ujung tanjung mengirim isyarat ke semua pintu : terimalah cintaku
cinta tak berkeris cinta tak bersuku
cinta yang tak tersurat
dalam lagu lagu ..

Sekian dekade sepertinya kita temukan lahirnya penerbitan pers yang baru yang berorientasi untuk bagaimana pers berfungsi sebagai pencerahan pencerdasan, dan memuliakan dengan peran sosial kontrolnya. Pers yang membangun kontrol/kritik yang solutif jalan keluar.

FIAM MUSTAMIN

PENASEHAT/PEMBERI NAMA GURINDAM.ID

Berikut kami lampirkan isi dari Gurindam 12, sebagai bentuk penghargaan kami atas karya Raja Ali Haji..

GURINDAM DUA BELAS

Karya: Raja Ali Haji

Satu

Ini Gurindam pasal yang pertama:

Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal dunia,
Tahulah ia barang yang teperdaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
Tahulah ia dunia mudarat.

Dua

Ini Gurindam pasal yang kedua:

Barang siapa mengenal yang tersebut,
Tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
Seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
Tidaklah mendapat dua termasa.
Barang siapa meninggalkan zakat,
Tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
Tiadalah ia menyempurnakan janji.

Tiga

Ini Gurindam pasal yang ketiga:

Apabila terpelihara mata,
Sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
Khabar yang jahat tiadaiah damping.
Apabila terpelihara lidah,
Niscaya dapat daripadanya paedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
Daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
Keluarlah fi’il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
Di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
Daripada berjaian yang membawa rugi.

Empat

Ini Gurindam pasal yang keempat:

Hati itu kerajaan di daiam tubuh,
Jikalau zalim segala anggotapun rubuh.
Apabila dengki sudah bertanah,
Datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
Di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
Nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung.
Tanda orang yang amat celaka,
Aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
Itulah perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
Janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
Mulutnya itu umpama ketor.
Di mana tahu salah diri,
Jika tidak orang lain yang berperi.

Lima

Ini Gurindam pasal yang kelima:

Jika hendak mengenai orang berbangsa,
Lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
Sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
Lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
Bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
Di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Enam

Ini Gurindam pasal yang keenam:

Cahari olehmu akan sahabat,
Yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
Yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
Yang boleh dimenyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
Pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan ‘abdi,
Yang ada baik sedikit budi,

Tujuh

Ini Gurindam pasal yang ketujuh:

Apabila banyak berkata-kata,
Di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
Itulah landa hampirkan duka.
Apabila kita kurang siasat,
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
Jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
Itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
Sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
Menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
Lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
Lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
Tidak boleh orang berbuat honar.

Delapan

Ini Gurindam pasal yang kedelapan:

Barang siapa khianat akan dirinya,
Apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
Orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
Daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
Biar dan pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
Setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
Kebaikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
Keaiban diri hendaklah sangka.

Sembilan

Ini Gurindam pasal yang kesembilan:

Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan,
Bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
Itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
Di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
Di situlah syaitan tempat bergoda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
Di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
Syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
Dengan syaitan jadi berseteru.

Sepuluh

Ini Gurindam pasal yang kesepuluh:

Dengan bapa jangan durhaka,
Supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
Supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
Supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan kawan hendaklah adil,

Supaya tangannya jadi kapil.

Sebelas

Ini Gurindam pasal yang kesebelas:

Hendaklah berjasa,
Kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
Buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
Buanglah khianat.
Hendak marah,
Dahulukan hujjah.
Hendak dimalui,
Jangan memalui.
Hendak ramai,
Murahkan perangai.

Duabelas

Ini Gurindam pasal yang kedua belas:

Raja mufakat dengan menteri,
Seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
Tanda jadi sebarang kerja.
Hukum ‘adil atas rakyat,
Tanda raja beroleh ‘inayat.
Kasihkan orang yang berilmu,
Tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
Tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
Itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
Kepada hati yang tidak buta.

Tamatlah Gurindam yang duabelas pasal yaitu karangan kita Raja Ali Haji pada tahun Hijrah Nabi kita seribu dua ratus enam puluh tiga likur hari bulan Rajab Selasa jam pukul lima, Negeri Riau, Pulau Penyengat.

Keterangan :

Bakhil ; kikir atau pelit

Balai : rumah tempat menanti raja (di antara kediaman raja-raja)

Bachri : hal mengenai lautan (luas)

Berperi : berkata-kata

Cindai : kain sutra yang berbunga-bunga

Damping : dekat, karib, atau akrab

Fi’il :tingkah laku, perbuatan

Hujjah : tanda, bukti, atau alasan

Inayat : pertolongan atau bantuan

Kafill : majikan atau orang yang menanggung kerja

Kasa : kain putih yang halus

Ketor : tempat ludah (ketika makan sirih), peludahan

Ma’rifat :tingkat penyerahan diri kepada Tuhan yang setahap demi setahap sampai pada tingkat keyakinan           yang kuat

Menyalah :melakukan kesalahan

Mudarat : sesuatu yang tidak menguntungkan atau tidak berguna

Pekong (pekung) penyakit kulit yang berbau busuk

Penggawa : kepala pasukan, kepala desa

Perangai : sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan perbuatan

Senonoh : perkataan, perbuatan, atau penampilan yang tidak patut (tidak sopan)

Tegah : menghentikan

Teperdaya : tertipu

Termasa : tamasya

TAREMPA, 24 JUNI 2020

 

When you are looking for somebody to assist me in writing my essay paper, you are not by yourself. The Internet can write my essay for me for free be a great resource to find this kind of support. People often turn to freelance writers to complete the writing. They’re always happy to do this for your benefit and will help you get excellent ratings. Do you know whether they’re competent? Here are some suggestions. Using the services from a professional writer may simplify the writing process and make it less difficult.

Close Ads X